Entah apa judulnya, kalau tak niat, jangan dibaca


Entah ini cerita atau nyata, aku tak tahu. Aku hanya merasa, merasa itu terjadi, entah kapan. Aku terkejut mendengarnya. Hati ini terasa keluar dari badanku. Dia t’lah pergi, tanpa pamit, tanpa undangan, tanpa sapaan “halo” sama sekali. Sebegitukah engkau membenciku, atau kau tak mau aku sedih? Hanya kau dan Tuhan yang tahu. Ingin kutarik garis itu, garis bernama kenangan. Ingin kuhamparkan, sepanjang zenith sampai nadir. Jiwa ini berdebar. Hai kawan, ehm, mungkin tepatnya, hai sobat! Kau ternyata tega. Kita ini sudah berpegangan tangan waktu bayi, kau anggap apakah aku ini? Hanya karena pertikaian yang sedikit saja, kau dan aku tak terluka, setidaknya tak terluka di raga. Kau dan aku tak rugi, setidaknya tak rugi materi.

Aku ingat lagi, hari itu, hari yang kau ingat seraya melangkah, seraya pergi meninggalkanku. Aku bukan dan tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin menyenangkan hatimu. Sampai di gerbang perpisahan, kenapa kau tak mengucap sepatah katapun? Sekedar basa-basi lambaian tanganpun tiada.

Aku tidak menangis, tidak akan menangis. Aku ingat hari ini, akanku ingat. Suatu hari nanti, bila kita bersua, takkan kusapa kau, dan jangan menyapaku. Anggaplah tangis, tawa, duka, suka, derita, gembira di masa lalu hanya khayalan semata.