Merenung

Roda waktu berputar, jalan semakin panjang dan berliku, aspal baru di jalan kedepan, berdebulah jalan yang lalu. Lukisan abstrak mulai digores, dan lukisan kusam mulai terrbuang. Rasanya lelah kaki melangkah, gemertak gigi tak karuan. Aku berjalan di kehampaan, dunia ini ternyata fana. Kehilangan, kesedihan, kebahagiaan, silih berganti. Saat tangis berganti tawa, saat raga merasa gundah. Aku tak boleh terdiam, langkah tak boleh membeku. Walau ingin ku mundur, diam membeku khayalkan masa lalu, atau cita yang tak tergapai. Saat tangan tak sampai, merenung ratapi nasib. Layaknya domba sang gembala, layaknya syair sang pujangga, nasib layknya jantung manusia, tak berhenti berputar.

Akhirnya aku sadar, ternyata hidup ada perhentian, tuk istirahatkan kaki yang gemetar. Perhentian bernama Peraduan.

terinspirasi dari:
Padi- Sang Penghibur
Runa Van Error

12 pemikiran pada “Merenung

  1. Asik ya gung, bisa ngepost terus. Hahaha

    keren dah, gigi dibawa-bawa

  2. keren keren,
    Like this bgt dah,
    One jg dulu sering nulis yg kyk gni di buku,
    Tpi bukunya gak tau kmana,
    Padahal lumayan tuh kalo ketemu, bisa di bikin postingan

  3. wah, keren tuh, berarti bikin sendiri ya?, kalau puisi nggak berbait namanya juga tetep puisi kan?, maklum saya sering bolos waktu pelajaran b. Indonesia dulu,.
    (nb: gurunya selalu bikin ngantuk)

  4. Wah bagus jg tuh..sambung lagi dong!!

  5. wkakakakakakakak..
    Tenang aja, semua pengunjung blog one udh pada punya sertifikat halal kok..
    Hahahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s