Yang Sering Terlewatkan

Fajar menelisik masuk melalui celah-celah, angin semilir berhembus mesra di tengah senyapnya, bulan mencoba beranjak meninggalkan langit yang terpaku sendiri.

Waktu fajar dan panggilan-panggilan merdu menyapa, mereka tidak terkesiap, tak bergeming, dan waktu berlalu.

Mentari menampakkan diri, mengakhiri waktu.

Masih Seminggu Lagi, Tapi…

Waktu adalah hal yang mengerikan, kita tak tahu apa yang akan terjadi setelah detik ini. 10 tahun lalu, 5 tahun lalu, 1 tahun lalu, dan sekarang, jika hidup saya selama 19 tahun kurang seminggu ini dibukukan, saya akan membuatnya dalam tetralogi, sesuai waktu-waktu tersebut, karena di waktu-waktu tersebutlah kehidupan saya mengalami titik balik.

10 bulan menganggur memberi saya banyak waktu untuk merenung, berfikir, berkaca kembali pada hal-hal yang sudah terjadi dan menerka-nerka hal-hal yang akan terjadi. Saat inipun, saya masih bisa melihat dengan jelas diri saya 10 tahun lalu, 5 tahun lalu, 1 tahun lalu, dan sekarang.

Waktu seperti air yang mengalir, semakin kita berusaha menggenggamnya dengan erat, semakin kita kehilangan banyak hal. Kita tidak punya pilihan kecuali mengikuti arus waktu, tidak bisa membendungnya, apalagi menghentikannya. Hal-hal yang bisa kita lakukan hanya mencoba menempatkan waktu-waktu kita di wadah yang tepat, mencoba menjaga kejernihannya, dan berharap arus waktu kita bisa mencapai tempat-tempat yang baik.

Waktu adalah hal yang menakutkan, kita tidak bisa menghentikan alirannya, dan ketika tiba waktunya, waktu kita berhenti dengan sendirinya, sedangkan waktu-waktu yang lain akan tetap berjalan melewati kita. Waktu memang menakutkan.

Sudah Lama Tidak Bertemu, Mari Ngeblog Lagi

Hai, lama juga ya saya tidak menyentuh blog ini, semenjak temen saya jaman kelas sepuluh dulu menemukan blog ini, saya putuskan menutup blog ini untuk umum, dan tiba-tiba aja saya sudah lulus SMA sekarang, sudah jadi ronin sembari menunggu SBMPTN tahun depan. Ahhh, kangennya….

Btw, tadi di Banjarmasin baru saja turun hujan, lumayan lah, buat ngeguyur sisa kabut asap sama ngilangin panas. Udaranya jadi enak, serasa baru pulang dari laundry. Semoga kabut asap bisa segera diatasi ya, aamiin.

Lama ga nulis, jadi bingung mau nulis apaan, ya sudahlah, anggap saja ini prolog untuk cerita baru kehidupan saya, cerita saya yg mulai beranjak dari abg jadi abg tua. Semoga kedepannya saya bisa lebih konsisten lagi dalam menulis, dan semoga tulisan-tulisan saya bisa lebih menarik dan tidak secupu dulu (baru baca tulisan2 lama, beh parah bener saya dulu ya).

Yasudah, saya lagi berduka, MU pagi tadi takluk di piala liga dari boro, mana mainnya di Old Trafford, mana Rossi juga dapet hukuman, tambahlah kesedihan ini. Yasudah, cukup sekian, sampai jumpa lain waktu.

Salam damai

Ulangan Matematika

Menggambarkan suasana ulangan matematika pagi tadi

5 menit pertama
Senyum karena nomor 1 gampang

5 menit berikutnya
Senyum mulai pudar karena soal nomor dua cuma mengerti separohnya

20 menit sudah berlalu
Mulai berkeringat dingin karena soal nomor 3 hanya bisa sepertiganya

25 menit
Gelisah, nunduk nunduk dan akhirnya kejedot meja, temen sebelah ngelihat, diketawain

30 menit
Menyerah. Pengibaran bendera putih dimulai. Selesai. Tutup pulpen. Rapikan meja. Pasang wajah dan sikap santai

90 menit
Mengumpul dengan wajah tanpa dosa, lalu ke kantin

Perpisahan

Di dunia ini, ada hal-hal yang takkan pernah bisa kita kendalikan, sekeras apapun kita berusaha untuk mengendalikannya. Termasuk perpisahan.

Perpisahan, secara sederhana bisa diartikan sebagai akhir dari pertemuan. Semua orang yang merasakan pertemuan, pasti merasakan perpisahan, baik perpisahan secara hakiki ataupun tidak.

Terkadang, kita merasa takut menghadapi perpisahan. Padahal, ketika kita memulai sesuatu, kita sudah masuk ke dalam langkah-langkah menuju perpisahan. Seperti Ari SK2H pernah berkata:

“…Bukankah ketika kita memulai sesuatu, justru sebenarnya kita sedang maju satu langkah untuk mengakhirinya? Waktu hanya sebuah pilihan dari Tuhan untuk manusia. Ada yg bisa menggunakannya dengan bijak, tapi banyak juga yg nggak demikian. Satu yg pasti, waktu nggak pernah berputar mundur, meski hanya sedetik. Dan gw seharusnya lebih bisa menerima apa yg sudah jadi pilihan gw…”

Yah, waktu takkan pernah berjalan mundur, dan waktu hanya datang untuk berlalu, ketika kita berpisah, kita akan berpisah. Walaupun kita memiliki kemungkinan untuk bertemu lagi, tetapi pertemuan tersebut akan sangat berbeda dengan pertemuan pertama. Karena sejarah memiliki kepastian untuk tidak terulang sama persis untuk kedua kali.

Perpisahan memang sesuatu yang pasti, tetapi sebuah pertemuan, selalu menyisakan kenangan.

Dan kalian tahu? Kadang kenangan itu seperti asap tipis yg menguap dari cangkir teh . Dia nyaris tak terlihat, sangat sulit untuk ditangkap, tapi kita tetap bisa merasakan kehangatannya. Bahkan saat dia terurai bersama angin musim gugur yg meniupkan helai demi helai daun momiji dari pucuk merahnya.

Petikan kata-kata yang ditulis oleh Ariadi Ginting di ebooknya. Ya, kenangan itu akan selalu terasa hangat. Kenangan tercipta ketika kita merasa rindu akan masa lalu. Kita selalu punya kenangan untuk menikmati kembali setiap momen yang telah berlalu.

Kekalahan yang Pasti

Langit kelam
Sementara cahaya merapuh
Dan temaram
Dan beku

Sementara ada yang tak sadar
Mencoba membentak malam
Kegagalan tetap melancar
Dan kepedihan nasib menghantam

Ada asa yang takkan tergapai
Oleh mereka yang berusaha
Dan akhirnya menepi
Saat sudah pergi semua

Dan kalah
Dan gagal

Gerimis

Gerimis jatuh
Gerimis tapi gemuruh

Gerimis jatuh
Daun berbisik
Air gemetar

Gerimis jatuh
Tapi dingin menusuk

Gerimis jatuh
Matahari tak perduli
Ia pergi

Gerimis jatuh
Daun yang mengering gugur di tengah gerimis

Betapa Datar Hidupku

Tulisan ini sukses ditulis setelah membaca postingan barunya Refa diblognya. Kalian tahu Refa kan? Jika tidak, silahkan lihat blogroll saya.

Bermula dari iseng-iseng buka blognya Refa, eh ternyata ada postingan baru. Setelah saya baca sampai selesai, level KEPO saya meningkat drastis. Saya jadi mencaritahu siapa adik kelas di cerita Refa, dan saya sukses menemukannya di sebuah blog, yang salah satu postingannya terkait sekali dengan postingan si Refa :Peace:

Sebenarnya yang mau saya bahas bukan siapa tokoh dalam cerita tersebut, melainkan apa yang sudah dilakukan tokoh di cerita. Kadang-kadang saya merasa jenuh dengan kehidupan saya sendiri. Saya merasa hari-hari berjalan membosankan. Kegiatan saya berputar-putar di tempat tidur-> kamar mandi-> sekolah -> komputer/manga/anime-> tempat tidur lagi. Saya hanya berinteraksi dengan orang lain melalui media jejaring sosial. Dan itu pun jarang dilakukan.

Bahkan teman saya di sekolah baru (SMA) masih tergolong sedikit. Saya lebih sering duduk di pojok kelas atau kantin atau perpustakaan sendiri saja. Kadang muncul perasaan ingin ikut ngobrol bareng teman-teman lain saya yang biasanya saling bergerombol. Tapi saya terlalu malas untuk memulainya.

Jadi saya sangat mendambakan momen-momen seperti yang Refa alami. Sekarang sih hanya sebatas harapan. Entah kapan terwujudnya.

Update 12/02/2016

2016, saya sudah lulus SMA, saya menemukan banyak hal dalam 3 tahun, dan saya nyatakan, saya tidak pernah menyesali satu haripun yang terjadi di masa 3 tahun SMA saya, haha, lucu juga jika saya membaca kembali pos 3 tahun lalu ini, sungguh, apa yang awalnya kamu lihat buruk, akan menjadi baik pada waktunya, percayalah, kawan!