Saya Kembali

Nah, sudah lama tidak menulis di blog kusam ini. Sepertinya debu sudah menggumpal di setiap sudut yang ada. Kali ini saya akan menulis.

Seperti yang kalian ketahui, atau mungkin kalian tidak tahu, saya ini lebih mudah menuangkan isi pikiran melalui tulisan, bukan secara lisan. Kecuali saya kenal dekat dengan orang lain, maka saya akan menjadi sangat cerewet. Makanya jangan kaget kalau suatu saat kita ketemu di jalan, dan saya gak menegur, bukan berarti saya sombong.

Sebenarnya saya ingin menulis sesuatu yang penting, tetapi saya bingung. Mungkin puisi lebih baik untuk dimuat di sini dibanding tulisan lain, jadi ya sudah, saya nulis puisi saja. Judulnya “Usai Satu Mimpi”. Artikan saja sendiri.

Alunan musik mengiring
di panggung yang mulai menggelap
Dan satu hati tetap terlelap
Menanti fajar membangunkan

Perasaan itu tak pernah sampai dalam diam
Karena pengecut bukanlah yang ditakdirkan menang
Mereka yang tenggelam di keheningan
dan terdiam di sudut kelabu
Takkan tersampaikan pada impian

Di keseluruhan mimpi ada satu
Satu sosok yang tak berubah
Sementara waktu terus melaju
Tetap terpaku satu hingga berdebu

Sebuah mimpi memang abadi
tetapi hati akan pergi
setelah cukup waktu
Setelah habis menanti
setelah lelah diam

Dan di sudut kelam
Sang pengecut tetap diam
Membiarkan isi dari mimpi berlari
Sementara hujan turun
Dari langit temaram

Sekalian kapal berlayar
Di dermaga lambaian tangan tertinggal

Persimpangan Jalan

“Aku bakalan pindah Zak” aku berucap tiba-tiba
.
.
.
“Hah?!” butuh beberapa detik sampai Zaky memahaminya

“Kenapa?” Tanyanya

“Ya bapakku pindah, aku mesti juga, tapi kamu jangan bilang ke yang lain, cuma kita berdua” Kataku

Lalu pertengahan tahun, hari terakhir semester 2, setelah ulangan. Yang datang ke sekolah semakin sedikit. Dan setelah setengah jam, kami boleh pulang. Aku dan beberapa temanku mengayuh sepeda, dan sampai di persimpangan yang biasa kami lalui. Seperti biasa, aku satu-satunya yang belok kanan. Yang lain belok kiri.

“Sampai jumpa kelas 2″ Akhmad berteriak di kejauhan.

Hari itu, persimpangan terasa beda. Berat rasanya. Ini namanya perpisahan. Dan aku tak pernah lagi menginjakkan kaki di jalan tersebut.

Mungkin nanti, ketika semua sudah selesai, aku akan kembali. Bertemu semua yang hilang. Memungut kembali semua kenangan.

Menyerah

Inilah jarak sebrang sungai
Yang jauh
di pinggir dua tempat
aku dan kau
Tapi aku harus menghirup rindu
Cinta yang menusuk kalbu

Kau di batas tatapanku
Sejarak dengan genggaman tanganku
Tapi kau di akhir,
aku di awal

Kita di garis abu-abu
Aku dan kau
Biar melukiskan kisah kita
di dua kertas yang berbeda

Biarlah kau naik ke puncak
Aku bukan pemandu
Hanya penopang
Dan untaian kata ini
Menjadi bukti menyerahnya aku

Yang Takkan Terungkapkan

Di tepi sungai
Di atas rerumputan
Kuletakkan hati
Saat sebuah pertemuan

Dan hati itu tetap tak bergeming
Menjaga perasaan dari dingin malam
Seolah pagi pasti datang
Dan hilang semua kelam

Dan hati itu sengaja kuletakkan
Agar rasa ini membeku
Agar tak menjadi roman picisan
Agar tak menjadi sebuah kisah yang kaku

Dan saat waktunya tiba
Biar aku yang mundur dan menyerah
dan aku jemput hati yang tetinggal
Dalam senyap dan aku pasrah

Ulangan Matematika

Menggambarkan suasana ulangan matematika pagi tadi

5 menit pertama
Senyum karena nomor 1 gampang

5 menit berikutnya
Senyum mulai pudar karena soal nomor dua cuma mengerti separohnya

20 menit sudah berlalu
Mulai berkeringat dingin karena soal nomor 3 hanya bisa sepertiganya

25 menit
Gelisah, nunduk nunduk dan akhirnya kejedot meja, temen sebelah ngelihat, diketawain

30 menit
Menyerah. Pengibaran bendera putih dimulai. Selesai. Tutup pulpen. Rapikan meja. Pasang wajah dan sikap santai

90 menit
Mengumpul dengan wajah tanpa dosa, lalu ke kantin

Seorang Pesakitan

Mentari senyap menelisik langit malam
Menyinari sisa temaram
Dan dingin, di bawah langit yang membiru

Anak manusia yang termenung Seorang melankolis yang meringis

Betapa hidup begitu pedih
Betapa roda zaman mampu menggilas hati yang merah muda

Langit tak tahu
Dia tetap membiru
Daun daun berbisik
Menjatuhkan setetes embun yang sedingin tatapan nasib

Dan gugur satu pesakitan
Dia korban zaman

Di Tempat Kenangan

Tempat ini terang
Ditabur sinar mentari
Namun terbentang jurang
Antara ramai dan sepi

Berjalan di tengah keramaian
Dan dalam sepi
Derap mengalun
Tapi serasa mati

Senyum itu tak pernah pudar
Takkan pernah
Tak sempat pudar
Karena semua sudah menjauh

Di pinggir kota
Di tempat penuh nostalgi
Kenangan yang dulu ada
Di sini mati