Nah, sudah lama tidak menulis di blog kusam ini. Sepertinya debu sudah menggumpal di setiap sudut yang ada. Kali ini saya akan menulis.
Seperti yang kalian ketahui, atau mungkin kalian tidak tahu, saya ini lebih mudah menuangkan isi pikiran melalui tulisan, bukan secara lisan. Kecuali saya kenal dekat dengan orang lain, maka saya akan menjadi sangat cerewet. Makanya jangan kaget kalau suatu saat kita ketemu di jalan, dan saya gak menegur, bukan berarti saya sombong.
Sebenarnya saya ingin menulis sesuatu yang penting, tetapi saya bingung. Mungkin puisi lebih baik untuk dimuat di sini dibanding tulisan lain, jadi ya sudah, saya nulis puisi saja. Judulnya “Usai Satu Mimpi”. Artikan saja sendiri.
Alunan musik mengiring
di panggung yang mulai menggelap
Dan satu hati tetap terlelap
Menanti fajar membangunkan
Perasaan itu tak pernah sampai dalam diam
Karena pengecut bukanlah yang ditakdirkan menang
Mereka yang tenggelam di keheningan
dan terdiam di sudut kelabu
Takkan tersampaikan pada impian
Di keseluruhan mimpi ada satu
Satu sosok yang tak berubah
Sementara waktu terus melaju
Tetap terpaku satu hingga berdebu
Sebuah mimpi memang abadi
tetapi hati akan pergi
setelah cukup waktu
Setelah habis menanti
setelah lelah diam
Dan di sudut kelam
Sang pengecut tetap diam
Membiarkan isi dari mimpi berlari
Sementara hujan turun
Dari langit temaram
Sekalian kapal berlayar
Di dermaga lambaian tangan tertinggal